Makalah Pendidikan Qur'ani - skripsi man (dulrohman webs)

Rabu, 06 Juni 2012

Makalah Pendidikan Qur'ani


MENDIDIK ANAK
MEMBACA, MENULIS DAN MENCINTAI AL-QUR’AN
SERTA METODENYA


Penulis
Ust. M.Mumtaz, S.Th.I
 (Kepala Sekolah SMPIT Binaaul Ummah - Bekasi)


·     MUQODIMAH
Segala puji hanya patut menjadi milik Allah swt, Zat Yang menurunkan Al-Qur’an, mengajarkanya, sekaligus membuatnya mudah dipelajari. Sholawat dan salam tercurah kepada Rosulullah Muhammad saw, yang memiliki misi mengajarkan Kitab Suci Al-Qur’an, berikut keluarganya, sahabatnya, serta para pengikutnya.
Di era ini, masyarakat muslim, secara khusus orang tua, para pendidik dituntut untuk memiliki sikap isyfaq terhadap anak-anak sebagai generasi penerus. Sikap isyfaq adalah sikap peduli, khawatir, dan prihatin terhadap kondisi dan dunia anak-anak. Dan manifestasi isyfaq yang paling riil adalah mendidik anak membaca dan menulis Al-Qur’an. 

·      LATAR BELAKANG PENULISAN
Yang melatar belakangi penulis mencoba menyusun pembahasan ini diantaranya adalah:
1.      Urgensi pengajaran Al-Qur’an sejak usia dini, agar ada generasi mendatang mampu memahami Al-Qur’an secara benar.
2.      Janji dan keutamaan yang Allah dan Rosul-Nya berikan kepada para orang tua dan para pendidik yang berusaha keras terhadap pendidikan Al-Qur’an bagi putra dan putrinya.
3.      Sikap isyfaq terhadap generasi muslim saat ini.

·       PEMBAHASAN
     I.       SERUAN MENDIDIK ANAK BACA TULIS AL-QUR’AN
1.    Seruan Mendidik Anak Membaca Al-Qur’an
Rosulullah saw yang memiliki misi mengajarkan Al-Qur’an, menyeru dan mendorong orang tua agar tidak lupa mendidik anak-anaknya membaca al-Qur’an. Dalam hadits dinyatakan,
{ أدبواأولاكم علئ ثلاثة خصال : حب نبيكم وحب آل بيته وقراءت القرآن } رواه الطبرانئ
“Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur’an”. (HR. Thabrani)
Ditekankanya memberikan pendidikan Al-Qur’an pada masa kanak-kanak adalah masa pembentukan watak yang ideal. Anak-anak pada masa itu mudah menerima apa saja gambar yang dilukiskan kepadanya. Sebelum menerima lukisan yang negatif, anak perlu didahului semaian pendidikan Al-Qur’an sejak dini agar nilai-nilai Kitab Suci Al-Qur’an tertanam dan bersemi didalam jiwanya kelak.
2.    Anjuran Mendidik Anak Menulis Al-Qur’an
Firman Allah swt,
ن ج والقلم ومايسطرون { }
“Nun, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis”.
الذي علم بالقلم { }
“Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qolam”.
Sejarah perjalanan Nabi saw dan para sahabatnya pun mencatat giatnya generasi tersebut mendidik anak-anak muslim untuk dapat menulis.
Atas dasar Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, maka kegiatan tulis menulis yang amat ditekankan adalah tulis menulis huruf-huruf Arab (hijaiyah) sebagai bahasa Al-Qur’an. Penelitian Prof. Dr. Tahiyya Abdul Aziz, dosen bahasa disebuah universitas terkenal di Inggris, menyatakan bahwa bahasa Arab merupakan sumber pertama bahasa-bahasa di dunia. Hasil penelitiannya dia susun dalam sebuah buku yang berjudul Arabic Language The Origin of Languages.

 II.        PENGHARGAAN ISTIMEWA MENDIDIK ANAK BACA TULIS Al-QUR’AN
1.  Penghargaan Istimewa Bagi Orang Tua
Orang tua yang mendidik anaknya dengan Al-Qur’an baik sendiri maupun diserahkan kepada orang lain hingga anaknya mampu membaca Kalam Ilahi itu betapa pun tidak hafal, hanya dengan melihat mushaf (bin nadzhar), mereka akan diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan ating.
Adapun orang tua yang sanggup mendidik anaknya hingga anaknya hafal Kalamulloh itu dengan baik, mereka akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam rupa bula purnama. Anak tersebut akan dipanggil di hadapan orang tuanya, kemudian diperintahkan untuk mendemonstrasikan hafalan bacaannya. Bila si anak mampu mendemonstrasikan satu ayat, Alloh mengangkat orang tuanya satu derajat. Bisa dibayangkan berapa derajat syurga yang akan diterima orang tua, bila anaknya menghafal Kitab Suci Al-Qur’an seluruhnya. Penghargaan istimewa ini diungkapkan oleh Rosulullah saw,
2.   Amal Jariyah Orang Tua, Guru, dan Pengelola
Allah swt berfirman,
 { ونكتب ماقدمواوءاثرهم ج }
“Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan sekaligus bekas-bekas yang mereka tinggalkan….”
Rosulullah saw bersabda,
{ إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية , أوينتفع به , أوولد صالح يدعوله }       
“Jika manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya (kedua orang tua).” (HR. Muslim)
Imam As-Suyuti menyebutkan salah satu dari 10 amal jariyah dalam gubahan sairnya, yaitu mengajarkan al-Qur’anul Karim.

  III.     ANAK DAN PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN AL-QUR’AN
Pendidikan Al-Qur’an bagi kalangan anak-anak memiliki prinsip-prinsip yang berbeda dengan kalangan lainnya. Hal ini ada kaitannya dengan umur, kejiwaan anak, dan sebagainya. Para pendidik Al-Qur’an hendaknya memperhatikan hal ini agar tidak gagal. Diantara prinsip-prinsip itu antara lain sebagai berikut.
A.    Membaca dengan Tahqiq
Tata cara membaca Al-Qur’an menurut ulama terbagi menjadi empat macam, yaitu : 1) membaca secara tahqiq, 2) membaca secara tartil, 3) membaca secara tadwir, 4) membaca dengan hadr.
Tahqiq ialah membaca Al-Qur’an dengan memberikan hak-hak setiap huruf secara tegas, jelas dan teliti seperti memanjangkan mad, menegaskan hamzah, menyempurnakan harakat, serta melepas huruf secara tartil, pelan-pelan, memperhatikan panjang pendek, waqof dan ibtida’, tanpa sambalewa dan merampas huruf.
Tartil maknanya hampir sama dengan tahqiq, hanya tartil lebih luwes dari tahqiq. Az-Zarkasyi mengatakan bahwa kesempurnaan tartil ialah menebalkan kalimat sekaligus menjelaskan huruf-hurufnya.. Perbedaannya lagi adalah tartil lebih menekankan aspek memahami dan merenungi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan tahqiq tekanannya pada aspek bacaan.
Tadwir ialah membaca Al-Qur’an dengan memanjangkan mad, hanya tidak sampai penuh. Tadwir merupakan cara membaca Al-Qur’an dibawah tartil dan diatas hadr (tingkatan keempat).
Adapun hadr ialah membaca Al-Qur’an dengan cepat, ringan, dan pendek namun tetap sesuai kaidah bacaan yang benar.
Dari empat tata cara membaca Al-Qur’an tersebut, tata cara yang ideal untuk dipraktikan dikalangan anak-anak oleh orang tua dan pendidik adalah tata cara yang pertama,yaitu tahqiq, sesuai dengan anjuran as-Suyuthi.
Tetapi ada beberapa tata cara yang harus dihindari, diantaranya :
a.        Tata cara membaca hadzramah, yaitu membaca Al-Qur’an secara tergesa-gesa, terlalu cepat hingga sambalewa dan tak karuan hurufnya.
b.        Tata cara membaca al-lahn, yaitu cara membaca yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid.
B.    Metode Pengajaran
Prinsip pengajaran Al-Qur’an pada dasarnya dilakukan dengan bermacam-macam metode. Diantara metode-metode itu ialah:
Pertama, metode musafahah. Guru membaca terlebih dahulu, kemudian disusul anak atau murid. Dengan metode ini, guru dapat menerapkan car abaca huruf dengan benar melalui lidahnya. Seadangkan anak dapat melihat dan menyaksikan langsung praktik keluarnya huruf dari lidah guru untuk ditirukannya.
Kedua, metode ‘ardul qiro’ah atau metode sorogan/setor bacaan. Murid membaca didepan guru, sedangkan guru menyimaknya.
Ketiga, metode gabungan, yaitu guru mengulang-ulang bacaannya, sedang murid murid menirukannya kata per kata atau per kalimat juga berulang-ulang hingga murid terampil dan benar.

Adapun tahapan penerapan ketiga metode diatas ialah :
a.           Tahap awal ialah dengan metode pertama, ini merupan proses pengenalan kepada anak-anak pemula, sekaligus agar anak mengetahui bacaan yang benar.
b.          Jika anak telah mampu mengekspresikan bacaan huruf-huruf hijaiyah maka metode yang tepat adalah dengan metode yang kedua. Dengan metode ini dapat melatih kelancaran bacaan anak secara bertahap.
c.           Metode yang ketiga cocok untuk mengajar anak-anak menghafal.
C.    Petikan Selintas Kisah-Kisah Indah dari Al-Qur’an
Pada waktu mengajar Al-Qur’an, anak-anak perlu mendapatkan sisipan kisah-kisah Islami sebagai selingan. Tujuan dari pemaparan kisah ialah agar lekat, rindu, dan suka cita terhadap majelis pendidikan Al-Qur’an. Tidak jemu, bosan, dan tertekan karena system pendidikan yang kaku dan monoton.
Banyak kisah dan hikayat indah yang pantas dan perlu diceritakan kepada anak-anak, seperti kisah nabi-nabi, rosul, kisah Luqman, kisah Maryam binti Imran, Raja Iskandar Dzulqornain, dan lain sebagainya.
D.   Anjuran Hingga Khatam Al-Qur’an
Anak ditekankan hendaknya disiplin dan giat menjalani pendidikan Al-Qur’an hingga Khatam, maksudnya anak tuntas dalam membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, entah berapa lamanya, dengan disimak guru, agar dapat keberkahan selain itu agar bacaannya teruji baik dan benar.

     IV.   PENTINGNYA MOTIVASI DARI ORANG TUA
Ibnul Jauzi mengatakan, “Pembentukan yang paling utama ialah pada masa kanak-kanak. Apabila seorang anak dibiarkan melakukan sesuatu yang kurang baik dan kemudian telah menjadi kebiasaannya, maka akan sukarlah untuk meluruskannya. Pendidikan budi pekerti anak wajib dimulai dari rumah dalam keluarga sejak masa kanak-kanak.”
Dari perkataan tadi, agar anak dapat tekun, rajin dan disiplin dalam membaca dan menulis Al-Qur’an, maka peran orang tua sangatlah penting mengingat kondisi anak-anak yang tidak stabil yang senantiasa membutuhkan motivasi dan dorongan.
Peran motivasi dari orang tua ini bertambah penting mengingat banyak kendala yang menghadang yang menjadikan anak tidak tekun,,rajin dan disiplin dalam belajar Al-Qur’an seperti televisi misalnya, teman yang buruk serta lingkungan yang tidak kondusif.    
·        KESIMPULAN
Ada beberapa poin yang harus diperhatikan oleh orang tua dan pendidik dalam mendidik putra-putrinya mempelajari Al-Qur’an :
1.      Hendaknya orang tua dan para pendidik senantiasa bersemangat dalam mendidik putra-putrinya untuk tekun, rajin, dan disiplin dalam mempelajari Al-Qur’an. Mengingat besarnya jaza / ganjaran yang Allah dan Rosul-Nya janjikan.
2.      Gunakan metode yang tepat dan sesuai dalam pengajaran dan pendidikan Al-Qur’an bagi putra-putri kita agar mendapatkan hasil yang maksimal.
3.      Berikanlah selalu motivasi dan dorongan agar anak tekun, rajin, dan disiplin dalam belajar Al-Qur’an, baik dari dari orang tua maupun para pendidik. 

·        KHOTIMAH
Semoga apa yang telah penulis coba susun dapat bermanfaat dalam mendidik anak membaca, menulis dan mencintai Al-Qur’an Al-Karim.
Segala kekurangan, penulis memohon ampun kepada Allah swt, kemudian meminta maaf kepada para pembaca yang budiman
Tambun Selatan, 17 Maret 2008 M

Penulis
·        DAFTAR PUSTAKA
@ Al-Qur’an Al-Karim
@ Al-Ashbihani, Ismail Muhammad Al-Jauzi, Kitab At-targhib wat-Tarhib, Muassasah Al-Khadamat, Beirut.
@ Ibnu Qudamah, Mukhtashar Minhajul Qoshidin, Maktabah Darul Bayan, Damaskus.
@ As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman, Al-Itqan Fi Ulumul Al-Qur’an, Maktabah Al-Masyhad al-Husaini, Kairo.
@ Ahmad Saifuddin, Pendidikan Al-Qur’an, Gema Insani Press, Jakarta.


    

Tidak ada komentar:

Berita Viral Terkini