twitter


@ MUQODIMAH
Segala puja dan puji bagi Alloh yang memerintahkan para hamba-Nya untuk senatiasa menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada yang lain. Sholawat serta salam kepada Rosulullah saw, sebagai sebaik-baik guru panutan seluruh umat terdahulu hingga hari kemudian, juga kepada para keluarga, sahabat, serta para pengikutnya yang berusaha meneruskan perjuangannya hingga hari akhir.
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat, akan tetapi pergaulan antara guru dengan murid, atau sebaliknya sangatlah memprihatinkan. Sehingga banyak kasus yang membuat kita tercengang, dan kasus tersebut terjadi didalam dunia pendidikan.
Dengan tulisan ini penulis berharap dapat memberikan sumbangsih serta solusi atas keprihatinan diatas.

@  LATAR BELAKANG
Secara ringkas latarbelakang penulisan makalah ringkas ini adalah :
1.    Keprihatinan atas apa yang terjadi dalam proses pendidikan (       pergaulan) yang berlatarbelakang ketidak mengertian masing-masing pihak
2.    Keinginan dapat memberikan solusi atas permasalahan diatas
3.    Keinginan agar tercipta pergaulan pendidikan yang lebih baik lagi, terutama dilingkungan pendidikan SDIT Ulul Albab

@ PEMBAHASAN
Pada masa belajar otomatis terjadi interaksi antara murid dan guru, antara guru dan murid, serta murid dengan teman-temannya. Pola pergaulan yang baik sangat penting artinya bagi proses pendidikan seorang anak didik. Bagaimana pola interaksi yang baik tersebut ? Rasululloh saw bersabda :
 “Bukanlah golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil, tidak menghormati yang besar (orang tua), dan tidak menghargai hak orang yang berilmu.” (HR. At-Tirmidzi)
Kandungan hadits yang simple ini agaknya tepat untuk dijadikan pola pergaulan oleh seluruh elemen yang terlibat dalam pendidikan, khususnya guru dan  murid, yaitu pola menyayangi yang kecil dan menghormati yang tua baik dari segi usia maupun keilmuan.
A.    Menyayangi yang Kecil
Guru yang mengajar Al-Qur’an hendaknya menimbulkan sikap kasih sayang kepada anak-anak yang belajar kepadanya. Guru diserukan bersikap lemah lembut, belas kasih, dan santun. Selalu memberikan dorongan, mendidik dengan giat dan tekun.
Guru idealnya memosisikan diri pada anak didiknya laksana orang tuanya sendiri. akrab, dekat dan penuh perhatian disamping bersikap adil, tidak pilih kasih,. Rosulullah saw. sebagai guru besar memosisikan hal sama kepada para sahabatnya. Sabda beliau :


“Sesungguhnya aku laksana kedudukan ayah yang memberikan pendidikan kepada kalian.” (HR. Abu Dawud)
Guru tidak pantas berlaku emosi, kaku, keras hati, kasar, dan  pilih kasih. Guru hendaknya tidak suka mencela, menghina, dan mencemooh, apalagi memberi vonis  yang memojokan anak didik.
Sikap yang harus dihindari lainnya oleh seorang guru adalah pilih kasih, karena seorang guru kerap terjebak dalam sikap ini sehingga berakibat negatif  pada anak dikemudian hari. Dalam sebuah hadits, Nu’man bin Basyir menceritakan, “Ayah (Basyir) membawaku kepada Rosulullah saw.. Ayah berkata, “Ya Rasululloh, persaksikannlah, sesungguhnya aku memberi anakku Nu’man ini sekian dan sekian dari harta bendaku. Beliau bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri seperti pemberianmu kepada Nu’man? “Tidak” jawab ayahku. Beliau berkata, Kalau begitu persaksikan ini kepada orang selain aku saja, ”seraya melanjutkan, “Apakah kamu ingin semua anakmu sama baktinya kepadamu? “Tentu” jawab ayahku. “Kalau begitu, jangan kamu prioritaskan pemberian ini kepada Nu’man saja.” (HR. Muslim)  
Seorang penyair terkenal menggubah puisi yang berjudul :
Anak-Anak Belajar Belajar dari Kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia balajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangni diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Menyayangi anak ialah mengajari anak ialah mengajari anak sesuai dengan jenjang kapasitas kemampuan anak. Tidak membebani anak dengan muatan diluar kamampuannya.
B.        Menghormati yang Lebih Tua
Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a memiliki wasiat yang lengkap dan penting tentang tata karma anak didik kepada gurunya. Wasiat ini diriwayatkan oleh al-Khatib, “Diantara hak yang harus kamu tunaikan kepada orang alim (guru) ialah memberikan salam penghormatan kepada orang banyak secara umum, dan kepada orang alim secara khusus, duduk didepannya, tidak memberi isyarat disisinya dengan tangan, tidak memberi isyarat berkali-kali dengan mata, tidak sekali-kali mengatakan “kata si fulan” yang berseberangan dengan ucapannya, tidak mendahului ditempat duduknya, tidak memegangi bajunya, tidak terus mendesak ketika bosan, dan tidak jemu bergaul lama dengannya.”
C.        Pola Interaksi Antarteman
﴿ الراحمون يرحمهم الرحمن , ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء ﴾ رواه أبو داود و الترميذئ
“Orang-orang yang bersifat kasih sayang akan dikasihsayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Kasih sayangilah orang-orang yang ada di bumi niscaya orang-orang yang ada di langit akan mengasih sayangimu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Beberapa hal sebagai bagian dari pola hubungan antar teman ialah :
1.          Ifadah dan istifadah / take and give
2.          Mudzakarah, murojaah dan tikrar
3.          Munadzarah

@  KESIMPULAN
Beberapa hal penting yang menjadi kesimpulan dalam pembahasan makalah ini adalah
·     Sifat wajib yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah :
1.          Memilki sifat kasih saying, lemah lembut namun tetap tegas
2.          Memosisikan diri layaknya orang tua kepada anaknya
3.          Bersikap adil, dan tidak pilih kasih
4.          Tidak berlaku emosi, dan menjauhkan diri dari mencela, menghina dan mencemooh, serta memvonis kepadanya dengan vonis-vonis yang buruk.
·     Akhlaq yang harus dimiliki oleh seorang murid terhadap gurunya adalah
1.         Memberi penghormatan yang layak kepadanya.
2.         Tidak berbuat dan berkata yang menyinggung perasaannya
3.         Dan lain-lain
·     Pola hubungan yang harus dimiliki oleh antar teman
1.        Ifadah dan istifadah / take and give
2.        Mudzakarah, murojaah dan tikrar
3.        Munadzarah

@ KHOTIMAH
Semoga apa yang telah penulis coba susun dapat bermanfaat dalam memperbaiki dan mempererat hubungan diantara guru, murid, dan antar teman.
Segala kekurangan penulis, memohon ampun kepada Alloh SWT, kemudian meminta maaf kepada para pembaca yang budiman.
Tambun Selatan, 17 Maret 2008

                                                                                                                Penulis - Ustadzah Fitriani
@  DAFTAR PUSTAKA
·         Al-Qur’an Al-Karim
·         Ulwan, Abdullah Nasih, Tarbiyatul Aulad fil Islam I – II, Darus Salam. Kairo.
·         Syarifuddin, Ahmad, Mendidik Anak, Gema Insani Press. Jakarta.

1 komentar:

  1. Ustadzah Fitriani...saya mau bertanya sedikit,bolehkan? mengenai buku refernsi yg ada dalam artikel ini, buku yg berjudul "ulwan, abdullah Nasih,Tarbiyatul aulad fil islam 1-11, darussalam. kairo kemudian satu lagi "Syarifuddin ahmad, mendidik anak, Gema insani Press. jkarta.
    itu kedua2 bukunya di ambil pada halaman berapa ya, mohon penjelasannya

Poskan Komentar