twitter


PENINGKATAN KEMAMPUAAN MEMBACA CEPAT
PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
SISWA KELAS VII SMP NEGERI  01 KUNDURAN KABUPATEN BLORA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Proposal Penelitian Mata Kuliah“ Seminar Bahasa“
Dosen Pengampu : Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.



Disusun Oleh :
Bayu Adhi Biantoro   A310 070 091

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. 
DAFTAR ISI ..
DAFTAR LAMPIRAN........ 
BAB  I  :  PENDAHULUAN .. 
   A. Latar Belakang ........ 
   B. Rumusan Masalah .... 
   C. Tujuan Penulisan .... 
   D. Manfaat Penulisan....................
BAB  II : LANDASAN TEORI ......
   A. Hakekat Membaca.........
        1. Pengertian Membaca.....
        2. Proses Membaca........
        3. Teknik Membaca.......... 
        4. Motivasi ......... 
   B. Metode Pengajaran Membaca .....
   C. Manfaat Alat Peraga .......
   D. Evaluasi Hasil Belajar .........
BAB  III : PEMBAHASAN MASALAH ......
   A. Identifikasi......
   B. Diagnosis ......... 
   C. Prognosis .......... 
   D. Evaluasi .............
   E. Hasil Bimbingan .......
BAB  IV : PENUTUP ....... 
   A. Simpulan ............... 
   B. Saran ....... 
DAFTAR PUSTAKA …
LAMPIRAN …

 DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I Soal Teks Bacaan .................................................................... 15
LAMPIRAN II Soal Teks Bacaan ...................................................................17
LAMPIRAN III Hasil Tes I dan II...................................................................19




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Membaca merupakan hal yang paling penting atau hal yang mendasar  dalam dunia pendidikan terutama dalam lingkup sekolah dasar. Karena membaca merupakan proses memperoleh informasi  atau wawasan dari buku yang dibaca terutama buku mata pelajaran. Jadi tanpa membaca buku tidak akan memperoleh informasi yang akan menambah wawasan anak didik. Dalam pembelajaran terutama mata  pelajaran Bahasa Indonesia, untuk kurikulum berbasis kompetensi evaluasi siswa tidak berdasarkan satu aspek saja melainkan ada empat aspek yaitu aspek membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Jadi empat kemampuan dalam Berbahasa Indonesia di evaluasikan kepada siswa. Tetapi yang paling mendasar dalam Bahasa Indonesia adalah aspek membaca. Kemampuan anak dalam membaca sangat berbeda-beda. Ada yang kemampuannya tinggi dan ada yang sedang. Dalam membaca cepat teks panjang 100-200 kata permenit anak masih banyak ekkurangan atau kesalahan dalam hal teknik membaca. Contohnya di SMP Negeri  01 Kunduran Kabupaten Blora untuk kelas VII siswa  masih banyak sekali kekurangan dalam hal teknik membaca. Anak belum bisa membaca dengan intonasi, lafal, pemahaman isi, pemanfaatan atau penggunaan waktu dan lain-lain. Maka penulis yang menemukan hal yang seperti itu, membuat penulis ingin melakukan pemecahan masalah atau solusi kepada siswa yang kurang tersebut dengan melakukan atau memberikan bimbingan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang terpusat pada kegiatan membaca. Agar siswa dapat terlatih untuk membenahi teknik membaca yang sesuai dengan ejaan yang benar.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka timbul permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan membaca dengan teknik yang benar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada materi membaca cepat teks 100-200 kata permenit kelas VII SMP Negeri  01 Kunduran Kabupaten Blora?
 C.  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan seminar bahasa adalah :
1. Memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Mata Kuliah“ Seminar Bahasa“
2. Mengetahui kemampuan membaca cepat teks 100-200 kata permenit siswa kelas VII SMP Negeri  01 Kunduran Kabupaten Blora.
3. Meningkatkan kemampuan membaca cepat teks 100-200 kata per menit dengan tepat.
D.  Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan laporan seminar sastra adalah :
1.  Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini secara umum untuk mengetahui kemampuan membaca pada siswa terutama siswa kelas VII SMP Negeri  01 Kunduran Kabupaten Blora?
.
2.  Manfaat Praktis
a.       Bagi peneliti, hasil dari penelitian merupakan umpan balik dan hasil nyata dari penerapan ilmunya selama mengikuti perkuliahan seminar bahasa di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
b.       Bagi guru SMP, hasil penelitian ini  diharapkan menjadi masukan dalam mendidik dan membimbing siswanya.
c.       Bagi Sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada SMP itu sendiri dalam rangka penelitian pembelajaran.
d.      Bagi siswa, hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi siswa terutama yang mengalami kesulitan membaca cepat sehingga hasil belajarnya meningkat.  



BAB II
LANDASAN TEORI

A.  Hakekat Membaca
1.  Pengertian Membaca
Membaca pada hakekatnya adalah  suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar menghafal tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berfikir,  prikolinguistik dan meta kognitif. Sebagai suatu proses befikir, membaca mencakup aktivtas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis dan pemahaman kreatif. Menurut Crawley dan Mountain dalam Rahim (2005: 3) membaca merupakan gabungan proses perseptual dan kognitif. Membaca sebagai proses visual merupakan proses menerjemahkan simbol tulis ke dalam bunyi. Pembaca tahap ini mengidentifikasi tugas membaca untuk membentuk strategi membaca yang sesuai, memonitor pemahamannya, dan menilai hasilnya. Menurut Klen, dkk., dalam Rahim (2005: 3) mengemukakan definisi membaca mencakup :
a.       Membaca merupakan suatu proses Maksudnya informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
b.      Membaca merupakan suatu strategis Maksudnya pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca.
c.       Membaca adalah interaktif Maksudnya orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang  ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks. Menurut Nuttall dalam Rofi’uddin  (2002: 173) membaca merupakan upaya menggali informasi dari berbagai jenis teks, sesuai dengan tujuan membaca. Untuk memperoleh informasi pembaca akan menggunakan strategi tertentu, yang berupa ketrampilan menangani kata dan ketrampilan menangani teks itu sendiri.
2.  Proses Membaca Menurut Burns, dkk., dalam Rahim (2005: 12) proses membaca meliputi sembilan aspek, yaitu :
a.       Aspek sensori
Pada tahap ini anak belajar membedakan secara visual simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk mempresentasikan bahasa lisan.
b.      Aspek perceptual
Anak mengenali rangkaian simbol tertulis, baik berupa kata, frasa atau kalimat kemudian memberi makna dengan menginterprestasikan teks yang dibacanya.
c.       Aspek urutan
Kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umumnya tampil pada satu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.
d.       Aspek pengalaman
Anak yang mempunyai pengalaman yang banyak akan mempunyai kesempatan luas dalam mengembangkan pemahaman kosa kata dan konsep yang dihadapi dalam membaca.
e.       Aspek berpikir
Anak emmbuat simpulan berdasarkan  isi yang terdapat dalam materi bacaan untuk dapat memahami bacaan.
f.       Aspek pembelajaran
Anak belajar membaca dalam kegiatan pembelajaran.
g.      Aspek asosiasi
Anak mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna.
h.      Aspek afektif
Kegiatan memusatkan perhatian anak, membangkitkan kegemaran membaca dana menumbuhkan motivasi ketika sedang membaca.
i.        Aspek pemberian gagasan
Anak memberikan gagasan atau pendapat tentang teks yang telah mereka baca. 
3.  Teknik Membaca
Teknik membaca antara lain membaca pilih, baca lompat, baca tatap dan baca layap (skipping). Tetapi untuk pembahasan ini lebih ditekankan pada membaca layap (skipping). Membaca layap (skimming) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan. Teknik membaca layap untuk mendapatkan gagasan yaitu :
 a.  Baca beberapa kalimat dengan kecepatan biasa.
b. Setelah membaca carilah kata-kata yang menceritakan lebih banyak tentang gagasan umum, biasanya berada pada awal paragraf atau akhir paragraf. Ingat, rincian tidak penting.
c.  Kerjakan selalu dengan cepat.
4.  Motivasi
Sebagian besar pakar psikologi menyatakan bahwa motivasi  merupakan konsep yang menjelaskan alasan seseorang berperilaku. (Tri Ani, dkk. 2004: 110) Motivasi adalah penting karena  dapat memunculkan dan mendorong perilaku, memberikan arahan atau tujuan perilaku. Memberikan peluang yang sama dan mengarahkan pada perilaku tertentu. Tujuan pembelajaran akan tercapai jika siswa mendapat motivasi. Motivasi dapat diperoleh baik dari dalam (intrinsik) maupun luar (ekstrinsik) diri siswa.
a.  Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik ada karena siswa merasa bahwa apa yang akan dilakukan betul-betul berguna dan akan rugi jika tidak melaksanakannya.
b.  Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik akan timbul karena adanya sesuatu yang datang dari luar yang akan menambah semangat dalam belajar. Setelah mendapat motivasi dalam pembelajaran siswa diharapkan :
-  merasa puas terhadap keseluruhan proses dan kegiatan belajar
-  merasa senang karena mendapat perolehan nyata pada tiap akhir pelajaran
-  mampu mendayagunakan perolehannya  baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain

B.  Metode Pengajaran Membaca
Pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran membaca yang di dasarkan pada kebutuhan anak dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasai anak di TK Rubin dalam Rofi’uddin (2002: 37) mengemukakan beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pengajaran membaca yaitu :
1)  Peningkatan ucapan Guru perlu mengidentifikasi bunyi-bunyi mana yang sulit diucapkan anak dan bunyi tersebut perlu dilatih secara terpisah.
2)   Kesadaran foremik (bunyi) Kegiatan difokuskan untuk mengenal anak terhadap bunyi-bunyi yang membangun suatu kata.
3)  Hubungan antara bunyi – huruf Pengetahuan tentang hubungan bunyi huruf merupakan prasyarat dalam membaca. Guru dipandang perlu mengidentifikasi apakah anak telah dapat dengan tepat mencocokkan antara bunyi dengan huruf.
4)  Membedakan huruf Maksudnya kemampuan membedakan lambang bunyi. Jika anak masih mengalami kesulitan membedaan huruf maka dia belum siap untuk membaca.
5) Membedakan bunyi-bunyi Kemampuan membedakan bunyi-bunyi bahasa merupakan hal penting dalam pemerolehan bahasa. Latihan membedakan bunyi diarahkan pada bunyi-bunyi sejenis, baik yang membedakan arti maupun yang tidak membedakan arti.
C.  Manfaat Alat Peraga/Media
Alat peraga yaitu alat bantu atau pelengkap guru dalam berkomunikasi dengan para siswa (Natawidjaja, dkk., 1979:  28). Alat peraga  tersebut berguan agar bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru lebih mudah dipahami siswa. Dalam proses belajar mengajar alat peraga digunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. Dengan berbagai alat peraga, maka mata pelajaran akan lebih mudah dan menarik, menjadi konkrit, mudah dipahami, hemat tenaga dan waktu dan hasil belajar akan lebih bermakna. Alat peraga dapat berupa benda konkrit, gambar atau diagram. Untuk alat peraga membaca teks dapat berupa gambar seri, lagu-lagu yang berkaitan dengan teks, gambar utuh, barang atau benda yang merujuk pada isi teks bacaan, teks bacaan dan lain-lain.
D.  Evaluasi Hasil Belajar
1. Alat Penilaian
Untuk mengetahui hasil belajar digunakan teks sebagai tolok ukurannya. Tes adalah latihan ketrampilan dan kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok, menurut Arikunto dalam Nurwati (2004: 67).
Macam-macam tes :
1.  Tes awal dilaksanakan sebelum pembelajaran itu untuk menjajaki kemampuan siswa.
2.  Tes dalam proses dilaksanakan pada waktu pembelajaran yang berkaitan dengan sikap siswa.
3.  Tes akhir dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran mencapai tujuan yang ditetapkan.
2.  Cara mengevaluasi
Salah satu cara mengevaluasi membaca yang tidak menakutkan anak adalah berupa menyuruh anak memilih bagian atau bola-bola tertentu dari sebuah buku yang disenangi. Selain itu guru dapat juga menyiapkan foto kopi dan meminta anak-anak membacanya. (Rofi’uddin. 2002: 149)


BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

A.  Identifikasi
Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan pada murid kelas VII SMP Negeri 01 Kunduran Kabupaten Blora pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi membaca cepat  teks panjang  100 – 200 kata per menit ditemukan beberapa kesulitan yaitu :
1.  Kurang mengenali huruf
Kesulitan yang berupa ketidakmampuan anak mengenali huruf dalam alfabetis. Anak masih salah dalam membaca struktur kata.
2.  Pemparafrasean yang salah
Dalam membaca, anak  seringkali melakukan pemenggalan atau berhenti membaca pada tempat yang tidak tepat atau tidak memperhatikan tanda baca, khususnya tanda koma dan titik.
3. Penghilangan
Yang dimaksud penghilangan adalah anak menghilangkan atau tidak dibaca kata atau frasa dari teks yang dibacanya. Penghilangan kata atau frasa ini biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan anak mengucapkan huruf-huruf yang membentuk kata.
4.  Pengulangan
Biasanya anak mengulangi kata atau frasa dalam membaca.
5.  Penyisipan
Kebiasaan anak untuk menambahkan kata dalam kalimat yang dibaca.

6.  Penggantian
Kebiasaan mengganti suatu kata dengan kata lain. Contoh : mengunyah diganti makan
7.  Kekurangan waktu
Dalam membaca cepat anak kebanyakan kekurangan waktu. Contoh : anak diberi waktu 1 menit untuk membaca teks 100 – 200 kata.
8.  Kesulitan kluster, diftong dan digraf
Walaupun jumlahnya terbatas, anak  masih ada yang kesulitan kluster (gabungan dua konsonan atau lebih), diftong (gabungan dua vokal), dan disgraf (dua huruf yang melambangkan satu bunyi).
Contoh :
-  Kluster (st, kl, gr dan lain-lain)
-  Diftong (ai, ui dan lain-lain)
-  Digraf (sy, ng, kh dan lain-lain).
9.  Kesulitan vokal
Anak biasanya kesulitan dalam mengucapkan huruf yang melambangkan beberapa vokal misal huruf i selain melambangkan bunyi i juga melambangkan bunyi e (dalam kata titik, kancil, dinding, dan sebagainya).  Ada beberapa siswa kelas VII SMP Negeri 01 Kunduran Kabupaten Blora yang mengalami kesulitan-kesulitan yang sudah dipaparkan diatas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa masih belum menguasai cara membaca cepat.

B.  Diagnosis
Peneliti menduga kesulitan yang dialami siswa dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu dari dalam dan dari luar. Dari dalam yaitu siswa belum dapat berkonsentrasi dengan baik pada waktu membaca sehingga siswa mengalami kesulitan-kesulitan dalam membaca. Selain itu minat siswa untuk membaca kurang. Untuk faktor dari luar yaitu yang berasal dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga mempengaruhi proses belajar membaca. Keluarga yang memfasilitasi anaknya dalam hal membaca akan berpengaruh pada proses belajar membaca pada anak.
 C.  Prognosis
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam emmbaca cepat teks panjang 100-200 kata permenit adalah :
1.  Dengan pemberian dril teks bacaan pada anak agar anak dapat berlatih untuk
membaca cepat.
2.  Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk aspek membaca dibuat suatu
permainan agar anak termotivasi untuk belajar membaca cepat.
3.  pada waktu pembelajaran anak dibimbing untuk membenari kekurangan atau
kesalahan teknik membaca.
4.  Pemilihan bahan bacaan kepada siswa yang menarik dan dengan tingkat
kesulitan tertentu secara bertahap. 
5.  Menanamkan pada siswa untukselalu membaca pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia jadi anak terbiasa untuk membaca.

D.  Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan untuk materi membaca cepat adalah tes dalam proses dengan menggunakan lembar pengamatan. Dengan menggunakan lembar pengamatan peneliti akan mengetahui sejauhmana keberhasilan anak dalam hal membaca cepat teks panjang 100-200 kata permenit. Evaluasi ini dilakukan dua kali untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membimbing siswanya yang kesulitan dalam membaca cepat tersebut. Evaluasi dilakukan secara bertahap dan dilaksanakan pada waktu proses pembelajaran berlangsung.

E.  Hasil Bimbingan
Setelah melakukan bimbingan sebanyak dua kali yang dilakukan oleh peneliti, dari hasil evaluasi dapat dilihat bahwa pada bimbingan pertama rata-rata nilai kelas (1,95 atau BC) sedang pada bimbingan kedua rata-rata nilai kelas (2,39 atau AB). Berarti dapat disimpulkan :
1.  Setelah dilakukan bimbinga, nilai siswa menjadi meningkat.
2.  Kesalahan dalam membaca cepat dapat teratasi.
3.  Minat baca anak menjadi meningkat.
4.  Tujuan dari pembelajaran tercapai secara optimal.  


BAB IV
PENUTUP

A.  Simpulan 
Berdasarkan landasan teori dan pembahasan yang telah dilakukan dalam uraian tersebut, maka hal yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa adalah :
1.  Guru melihat sejauh mana keberhasilan siswa dalam membaca cepat.
2.  Guru memberikan bimbingan pada siswa yang kurang berhasil membaca cepat dengan tepat.
3.  Guru melihat keberhasilan siswa setelah pemberian bimbingan.
4.  Pemberian motivasi agar siswa senang untuk membaca. 

B.  Saran
Berdasarkan simpulan diatas maka saran untuk guru dalam melakukan bimbingan adalah
1. Sebelum melakukan bimbingan pada siswa guru harus mengetahui faktor apa yang membuat kesulitan siswa dalam membaca pada siswa yang akan dibimbing.
2. Pemberian motivasi anak harus sesuai dengan apa yang akan diajarkan agar tujuan pembelajaran tercapai.  





DAFTAR PUSTAKA


Nata Widjaja, Rochman, dkk. 1979.  Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan.
Jakarta: Bunda Karya.
Nurwati, Sri Choni. 2004. Meminimalkan Kesalahan Konsep dengan Alat Peraga.
Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Rahim, Farida. 2005. Pengajaran Membaca di Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.
Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi,  Darmiyati. 2002.  Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Tinggi. Surabaya: Universitas Negeri Malang.
Tri Anni, Catharina dkk. 2004. Psikologi Belajar. Semarang ; UPT MKK UNNES.
                                                                                                                                                                        

0 komentar:

Poskan Komentar