twitter


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Pengantar
            Latar Belakang Masalah           
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Eksistensi sastra yang sarat dengan nilai sosial itu menjadikan ia tidak bersifat positif terhadap berbagai pendekatan sosiologis. Ia selalu terbuka, sehingga sangat boleh ia didekati dengan tinjauan sosiologis Goldman, Zima, Swingewood, Duvignaud, dan lain-lain.
Menurut Umar Junus (1986: 157) pendekatan strukturalisme genetik Goldmanlah yang paling kuat karena ia mempunyai literer karya yang dinamis. Pendekatan strukturalisme dinamakan juga pendekatan objektif, yaitu pendekatan dala penelitian sastra yang memusatkan perhatiannya pada otonomi sastra sebagai karya sastra. Kelemahan pendekatan strukturalisme diperbaiki dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahai karya sastra. Genetik karya sastra maksudnya asal-usul karya sastra.

            Perumusan Masalah
Masalah pada pengkajian ini adalah pada pendeskripsian penganalisisan, serta pemberian makna sajak.

            Tujuan
Pengkajian ini bertujuan untuk membangun ilmu sastra di Indonesia, khususnya pada bidang penerapan teori sastra, untuk mengkaji karya-karya ilmiah. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memahami puisi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.      Puisi Yang Dianalisis
            Puisi Wajib
NUH (Subagio Sastrowardojo)

Kadang-kadang
ditengah keramaian pesta
atau waktu sendiri berjalan di gurun
terdengar debar laut
menghempas karang

Aku tahu pasti
sehabis mengembara di kota
aku akan kembali ke pantai
memenuhi janji

Sekali ini tidak akan ada pelarian
atau perlawanan

Kapal terakhir terdampar di pasir
Aku akan menyerah dian
Waktu air terbena

2.1.1        Parafrase Puisi “NUH”
Kadang-kadang (muncul) ditengah keramaian pesta, atau (di) waktu sendiri berjalan di gurun (namun hanya) terdengar debar laut (yang) menghempas karang.
Aku (sangat) tahu (dengan) pasti (bahwasanya) sehabis mengembara di kota, aku akan kembali ke pantai, (untuk) memenuhi janji.
(Mungkin) sekali ini tidak akan ada pelarian, atau (bahkan) perlawanan.
Kapal (yang) terakhir terdampar di pasir, (dan) aku akan menyerah (kemu)dian. (di) waktu air terbena

2.1.2        Gaya
a.       Gaya metafora
Seperti :
·         Mengembara di kota : menjelajahi isi kota
b.      Gaya kiasan
Seperti :
·         Aku akan menyerah dian
·         Waktu air terbenam
c.       Gaya litotes
Seperti :
·         (Namun hanya) terdengar debur laut menghempas karang

2.1.3        Pembahasan
Secara keseluruhan tafsiran dari puisi “NUH” adalah sebagai berikut :

Bait ke 1
Disini si aku merasakan dirinya bahwa terkadang dia telah berada di tenga keramaian pesta. Akan tetapi si aku berjalan di gurun sendirian. Diperjalanan hanya terdengar debur laut yang menghempas karang.

Bait ke 2
Si aku telah tahu dimana setelah dia berjalan-jalan menjelajahi isi kota, ia akan kembali lagi ke pantai karena dia punya janji.

Bait ke 3
 Si aku tidak dapat memungkir takdir yang ada, maka itu si aku tidak melawan jalan hidup-Nya.
Bait ke 4
Si aku kini telah berada di gurun sendiri, karena kapalnya telah terdampar. Si aku hanya mampu diam dan memohon pada Robb-Nya.

            Puisi Pilihan
GARIS (Supardi Djoko Damono)

menyayat garis-garis hitam
atas warna kekemasan; di musim apa
Kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?

sewaktu cahaya tertoreh
ruang hening oleh bisikan pisau; Dikau-kah
debu, bianglala itu,
kabut diriku?

dan garis-garis tajam (berulang
kembali, berulang
ditolak) atas latar kecemasan
pertanda aku pun hamil. Kau-tinggalkan

2.2.1        Parafrase Puisi  “Garis”
Menyayat garis-garis hitam(kah?), (atau hanya) atas warna kekemasan; di musim apa(kah), Kita mesti (akan) berpisah tanpa (harus) mbungkukkan (tangan) selamat jalan(kah)?
(Dimana) sewaktu cahaya tertoreh, (di) ruang (yang) hening oleh bisikan pisau; Dikau-kah debu, (sang) bianglala itu, (yang jadi) kabut diriku?
dan (hanya garis-garis tajam (berulang kembali, berulang (untuk) ditolak) (hanya) atas latar kecemasan (sebagai) pertanda aku pun (telah) hamil. (dan kini) Kau-tinggalkan

2.2.2        Gaya
a.       Gaya hiperbola
Seperti :
·         Ruang hening oleh bisik pisau
(suasana yang tenang karena ada suatu masalah)
b.      Gaya metafora
Seperti :
·         Menyayat garis-garis hitam.
c.       Gaya paradoks
Seperti :
·         Kita mesti berpisah tanpa membungkukkan selamat jalan?

2.2.3        Pembahasan
Secara keseluruhan tafsiran dari puisi “GARIS” adalah berikut:
Bait ke 1
Seseorang yang telah merasakan penderitaan, merasa hatinya seperti disayat oleh pisau yang tajam. Orang ini memiliki penuh tanya dalam deritanya. Dia ingin tahu,kapan penderitaan yang dirasakannya akan berakhir.

Bait ke 2
Di saat ada sebuah cahaya yang tersilat dari sebuah pisau yang tajam, kini telah terdengar suara bisik pisau berada di sebuah ruangan.

Bait ke 3
Sayatan-sayatan pisau itu berkali-kali muncul berada, disaat orang ini telah hamil. Dan setelah kalah, ditinggalkanlah orang yang merasakan penderitaan ini.


BAB III
KESIMPULAN


Dalam kajian puisi ini kita telah tahu, bahwa karya-karya sastra merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvesi sendiri. Makna sastra ditentukan oleh konvensi sastra atau konvensi tambahan. Jadi dalam sastra arti bahasa tidak lepas sama sekali dari arti bahasanya. Dalam sastra arti bahasa itu mendapat arti tambahan atau konotasinya. Lebih-lebih dalam puisi, konvensi sastra itu sangat jelas memberi tambahan kepada arti bahasanya.


DAFTAR PUSTAKA


Jabrohim. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta : PT. Hanindita Graha Widia.

Mohamad, Goenawan. 1961. Asmarandana. Jakarta : PT. Grasindo, Anggota IKAPI


0 komentar:

Poskan Komentar