Struktualisme sastra - skripsi man (dulrohman webs)

Senin, 25 Juni 2012

Struktualisme sastra

Strukturalisme sastra adalah pendekatan yang memberi tekanan pada unsur-unsur di dalam segi intrinsic karya sastra. Analisis structural karya sastra merupakan jembatan dalam menganalisis unsure-unsur sastra lebih dalam dan sukar dihindari dalam tahap penelitian karya sastra, sebab analisis yang seperti itulah yang memungkinkan pengertian yang optimal.Serta adanya analisis structural akan mempermudah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tiap-tiap unsure sastra yang ada.
Novel sebagai salah satu bentuk rekaan, memiliki stuktural yang kompleks. Adapun unsure-unsur dalam novel adalh tema,fakta cerita, dan sarana sastra.
1.      Tema : makna sebuah cerita yang khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan sederhana
2.      Fakta cerita : rangkaian fakta yang terdiri dari karakter pemain, alur cerita, dan tempat.
3.      Sarana Sastra : teknik yang digunakan pengarang untuk memilih dan menyusun detail pola yang sederhana, biasanya terdiri dari sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, symbol-simbol, imajinasi, dan juga cara-cara pemilihan judul dalam karya sastra.
Unsur dalam karya sastra:
v  Tema : pemberontakan terhadap tata nilai, terutama moral dalam masyarakat
v  Alur : -    tahap penyituasian, pada tahap ini terlebih dahulu diceritakan rencana
kedatangan Larung ke Tulunagung, dan Eutanasia yang dilakukan Larung  kepada neneknya
-          Tahap pemunculan konflik, muncul saat Laila merasa bahwa ia hanya dijadikan selingkuhan karena istri Sihar tidak bisa mengandung, dan Laila merasa bahwa ia perawan tua.
-          Tahap peningkatan konflik, konflik ini membuat cerita lebih kompleks dan menarik.ketika Yasmin dan Cok tahu bahwa Laila ingin bertemu dengan Sihar dan Saman, dan mereka berencana menemukannya. Dalampertemuan itu Sihar mengajak istrinya untuk dikenalkan kepada Yasmin, Laila, Cok.
-          Tahap klimaks, yang menonjol adalh pada konflik tokoh-tokohnya.Yasmin menulis cerita kepada Saman yang menceritakan tentang situasi dan kondisi di Jakarta yang semakin tegang karena pendukung mega yang masih menutupi kantor PDI di jalandiponegoro.
-          Tahap penyelesaian, ketika masalah mulai reda dan menemukan jalan terang, tetapi diakhiri dengan kesedihan, yaitu Larung dan ketiga aktivis solidarity ditangkappolisi, dan Laila hidup menendiri tanpa ada Sihar disampingnya
v   Penokohan :  a. Larung Lanang, seorang manusia yang wataknya kompleks, punya
potensi perilaku yang baik mapun buruk, seperti halnya memiliki    kelebihan dan kekurangan
                               b. Saman, laki-laki yang memiliki sifat mengayomi, punya rasa humor.
                               c. Yasmin Moningka, seorang yang menjadi kekasih saman. Wanita karir
        yang cerdas, tidak setia/ tukang selingkuh(meski sudah bersuami).
            d. Cokorda, perempuan yang sukses pada karir, hingga memungkinkan ia
         mempunyai relasi yang banyak, dan Cok bukan tipe perempuan yang
         suka   tergantung pada orang lain.
             e. Laila, memiliki kesesuaian sifat dan sikap dengan perempuan pada
              umumnya yang berada dalam masyarakat.
             f. Shakuntala, memilki jiwa pemberontak, secarafisik kurang feminis bagi
   seorang perempuan.
v   Latar : mengacu pada waktu, tempat, dan suasana.
a.       Aspek Ruang : Tulungagung, Jakarta, Perabumulih, New York, Selat Philip, Pulau Mampur dan Kijang.
b.      Aspek Waktu : tahun 1985-1996 (11th). 1985 Larung datang di Tulunagung, 1996 perjalan Saman dan Larung dalam membebaskan aktivis solidarity.
c.       Aspek Suasana : menggambarka kehidupan anak muda pada era 90-an, dan Susana politik Indonesia pada akhir masa orde baru.
*            Berdasarkan hasil analisis novel Larung, dapat disimpulkan bahwa analisis perilaku seksual dalam novel Larung membagi empat perilaku ( perilaku seksual: Cok, dari pria satu ke pria lain, perilaku sksual sadisme: Yasmin, naluri seks yang terpendam selama bertahin-tahun tidak terlampiaskan, perilaku seksual meshokisme: Saman, naluri seksual yang diarahkan pada gagasan untuk di aniaya oleh mitra seksualnya, dan perilaku biseksual: Shakuntala&Laila,).

Tidak ada komentar: