twitter


Oleh Sabjan Badio, dkk.


A.     JUDUL
Kecenderungan Tematik Cerpen Anak dalam Rubrik Permata Majalah Ummi Edisi Tahun 2003.

B.     LATAR BELAKANG
Salah satu genre sastra yang kita kenal dewasa ini adalah sastra anak. Jenis ini muncul berkenaan dengan kualitas diri anak yang berbeda dengan orang dewasa, berbeda fisik, kognitif, juga kejiwaannya. Perbedaan-perbedaan yang ada, menuntut para penulis karya sastra untuk membuat karya yang juga berbeda. Perbedaan ini di antaranya terletak pada unsur intrinsik dan pengemasannya.
Kalau kita perhatikan, literatur dalam Bahasa Indonesia yang membicarakan sastra anak masih minim, apalagi jika dibandingkan dengan literatur yang membahas sastra dewasa. Dengan begitu, dapat diartikan juga bahwa pergulatan dunia sastra di Indonesia belum banyak menyentuh apa yang dinamakan sastra anak. Selain itu, penelitian mengenai sastra anak masih tergolong sangat kurang jika dibandingkan dengan penelitian terhadap sastra orang dewasa.
Hal lain yang menunjukkan bahwa bangsa kita belum bergelut secara mendalam dengan sastra anak dapat terlihat dengan kurangnya sastra anak yang “dilahirkan”. Selama ini, sastra anak yang lahir kebanyakan baru sebatas dongeng-dongeng, mitos, legenda atau cerita rakyat (kalau ini bisa dikatakan sastra anak)—apakah ini berarti nenek moyang kita sudah mengenal cerita anak dan rantai kehidupan cerita anak itu terputus? Sehingga saat ini jarang sekali pengarang Indonesia yang melahirkan secara mandiri karya sastra anak. Jikapun ada, hanya muncul secara kuantitas, tema yang diangkat masih itu-itu saja dan belum menunjukkan kualitas yang memadai apalagi jika dibandingkan dengan dongeng, mitos, legenda, atau cerita rakyat yang terlahir lebih dahulu. Cerita anak Indonesia ini akan semakin ketinggalan jika dibandingkan dengan sastra anak terjemahan yang banyak beredar di masyarakat dewasa ini..
Selama ini, kesannya, di Indonesia cerita anak dilahirkan hanya berdasarkan sudut pandang orang dewasa yang menciptakannya. Bagaimana tidak, nilai-nilai pendidikan atau semua yang ingin disampaikan kepada anak seolah-olah merupakan proyek yang harus diselesaikan. Keadaan ini bertambah parah setelah datangnya kenyataan bahwa cerita anak ini benar-benar menjadi proyek pemerintah dan lahirlah karya-karya yang tidak sampai menyentuh apa yang anak butuhkan. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang dewasa yang menciptakan sastra anak tersebut berpikirkan dari sudut pandang mereka sendiri, bukan dari sudut pandang anak-anak. Mereka berpikiran bahwa menurut mereka anak akan suka atau anak perlu itu. Mereka sering lupa untuk bertanya atau memposisikan apakah anak benar-benar akan suka atau benar-benar membutuhkannya.
Sastra anak juga bervariasi. Jika kita melakukan perbandingan secara sederhana, yaitu usia anak-anak awal, tengah, dan akhir, juga menuntut perbedaan karya sastra yang dikonsumsinya. Hal ini terjadi berkenaan dengan perkembangan anak yang pesat, tidak seperti orang dewasa yang kemampuan berpikirnya cenderung statis.
Keadaan kemampuan anak ini juga yang menyebabkan seorang pengarang harus mempertimbangkan dengan baik karya yang akan dilahirkannya. Seorang pengarang harus mempunyai wawasan yang luas tentang diri anak. Pengarang harus mempunyai wawasan tentang cara anak-anak bergaul, cara mengungkapkan suatu peristiwa, cara bercakap-cakap. Pengarang juga harus memahami perbedaan kemampuan berpikir anak yang sering dipengaruhi faktor lingkungan tempat anak berada. Hal-hal tersebut tentunya tidak dapat berlaku secara umum pada anak. Awal usia anak-anak, pertengahan, sampai pada usia anak-anak akhir juga menuntut hal-hal yang berbeda pula.
Cara penyajian dan pengemasan sebuah cerita anak harus benar-benar dipertimbangkan. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah unsur intrinsiknya. Salah satu wujud unsur intrinsik yang paling dipertimbangkan dalam sastra anak adalah tema. Tema dalam sastra anak biasanya berkenaan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan anak atau hal-hal yang seharusnya diberikan kepada anak. Tema juga menentukan apakah sebuah karya sastra akan diminati atau tidak oleh anak. Lebih umum lagi, tema juga menentukan apakah sebuah karya sastra akan dipilihkan orang tua atau gurunya untuk dibaca oleh anak atau apakah mereka akan mengizinkan anak atau muridnya untuk membacanya karena kita tahu bahwa orang tua dan guru sangat berperan dalam bacaan anak.
Perubahan zaman dan perubahan pandangan zaman terhadap anak akan ikut menentukan tema-tema yang diangkat dalam sastra anak. Salah satu pandangan zaman yang berubah yaitu lahirnya anggapan bahwa anak usia nol tahun sudah dianggap bisa berinteraksi dengan karya sastra. Inilah yang sering kurang dicermati oleh pengarang Indonesia. Cerita anak yang lahir kebanyakan dengan tema-tema yang monoton dan tentu saja tidak diminati oleh anak-anak.
Sebuah majalah, dengan penulis yang beragam diharapkan akan menghasilkan karya-karya dengan tema-tema yang beragam pula. Begitu pula tentunya yang kita pikirkan dengan majalah Ummi. Ditambah lagi dengan perkembangan majalah Ummi menjadi majalah yang sudah dikonsumsi secara nasional.
Selama ini, jika dibandingkan dengan sastra orang dewasa, kritik untuk sastra anak terasa lebih sedikit sehingga mengesankan jenis sastra ini seperti terpinggirkan. Penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian terhadap sastra anak yang ada di Kedaulatan Rakyat, majalah Bobo, harian Bernas, penelitian terhadap  novel anak dari beberapa penerbit di Indonesia, dan penelitian di beberapa media massa yang lainnya. Sedangkan rubrik cerita anak di majalah Ummi yang sudah diterima luas oleh masyarakat belum pernah diteliti. Padahal, majalah ini adalah majalah yang tidak hanya diperuntukkan bagi anak, bahkan lebih diperuntukkan kepada ibu. Dengan begitu, peran aktif orang tua akan sangat nampak dalam hal ini. Seperti yang telah umum kita ketahui adalah kenyataan bahwa anak tidak akan jauh dari orang tua, dia akan cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Apalagi jika ditambah dengan peran aktif orang tua itu sendiri.
                 
C.     IDENTIFIKASI MASALAH
1.       Wujud tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.
2.       Karakteristik tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.
3.       Kesesuaian tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003 dengan psikologi anak.
4.       Sarana yang digunakan pengarang untuk mengungkap tema cerpen dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.

D.    PEMBATASAN MASALAH
Karena luasnya permasalahan yang akan dikaji dan agar penelitian ini lebih fokus, maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.       Wujud tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.
2.       Karakteristik tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.

E.     RUMUSAN MASALAH
1.       Bagaimanakah wujud tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003?
2.       Bagaimanakah karakteristik tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.

F.      TUJUAN
1.       Untuk mendeskripsikan wujud tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.
2.       Untuk mendeskripsikan karakteristik tema cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.

G.    MANFAAT
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu sastra pada umumnya dan sastra anak—dalam hal ini tema sastra anak—pada khususnya. Di samping juga dapat menjadi sumber rujukan bagi penelitian yang berkaitan dengan sastra anak dan tema.
Secara praktis, penelitian dapat memberikan pengetahuan mengenai tema cerpen anak pada rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003 sehingga dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam mengapresiasikan cerpen. Selain itu, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah.

H.    PENJELASAN ISTILAH
Tema                    : makna yang dilepaskan atau makna yang ditemukan dalam suatu cerita. Tema merupakan implikasi yang penting bagi suatu cerita secara keseluruhan.
Anak                    : mereka yang masih berusia antara 0-12 tahun. Dalam penelitian ini, anak-anak yang kami maksudkan adalah anak-anak yang untuk usia sekolah dasar, kira-kira 6-12 tahun.
Sastra anak           : sastra yang diperuntukkan, dibuat, atau dihasilkan untuk anak. Dengan kata lain, sastra anak adalah sastra yang konsumennya adalah anak-anak.
Cerpen                 : cerita yang hanya mengungkapkan suatu masalah, dengan uraian yang singkat dan sederhana. Cerpen merupakan kesatuan jalinan peristiwa yang disusun secara sederhana namun logis yang ukurannya lebih kurang 5-15 halaman.
Rubrik Permata     : rubrik dalam majalah Ummi yang khusus disediakan untuk anak-anak. Dalam rubrik ini terdapat Kissah (bercerita mengenai kisah-kisah orang teladan, Serial Anak Islam (cerita bergambar), Assalamualaikum Kak Permata (ruang surat dan foto anak-anak), Terampil (ruang yang bertujuan melatih keterampilan anak-anak), Subhanallah…, Tahukah Engkau… (ruang yang menyajikan cerita-cerita yang bermaksud memberikan pelajaran tentang alam), Cerpen (karya orang dewasa yang ditujukan untuk anak-anak, cerpen inilah yang diteliti dalam penelitian ini), dan Alhamdulillah ini Hasil Karyaku (ruang karya yang dihasilkan oleh anak-anak).


Catatan:

Proposal ini diambil dari proposal program penelitian mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2004. Sepintas diperlukan penyempurnaan. Akan tetapi, karena publikasi ini sifatnya untuk memperkaya (referensi) saja, maka penyempurnaan kami anggap tidak perlu.


leh Sabjan Badio, dkk.
I.       KAJIAN TEORI
1.       Cerpen Anak sebagai Bagian dari Sastra Anak
a.       Sastra Anak
Sastra anak pada hakikatnya tidak berbeda dengan sastra orang dewasa. Dari strukturnya tidak berbeda, sama-sama punya judul, sama-sama punya seting, sama-sama punya tema, dan sama-sama punya unsur intrinsik yang lain.
Istilah sastra anak mengacu pada dua pengertian, sastra yang dibuat oleh anak dan sastra yang ditujukan untuk anak. Jika kita melihat konsepnya secara mendasar, kita akan mengatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang ditujukan untuk anak. Kalau kita mengatakan sastra anak adalah sastra yang dibuat oleh anak, berarti sastra yang dibuat oleh orang dewasa adalah sastra orang dewasa—walaupun wujudnya tampak sederhana dan terlalu sederhana untuk orang dewasa. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sastra anak adalah sastra yang ditujukan untuk anak, baik itu dibuat oleh orang dewasa maupun yang dibuat oleh anak sendiri.
Hunt (via Purwanti, 2002: 14) mengemukakan bahwa sastra anak adalah sebuah karya sastra yang kemungkinan benar-benar akurat, sedikit menggunakan deviasi atau penyimpangan bahasa, dan memberikan suatu teks yang melukiskan ekspresi-ekspresi untuk anak dan dapat dikenal oleh anak.

b.       Jenis-Jenis Sastra Anak
Bunanta (1999: 41-48) membagi bacaan anak menjadi buku bacaan bergambar, komik, sastra tradisional, fantasi modern, fiksi realistis, fiksi sejarah, puisi, buku informasi, buku biografi. Pembagian Bunanta ini tidak jauh berbeda dengan pembagian yang dilakukan oleh Lukens (1999). Lukens membagi bacaan anak menjadi realism (realistic stories, animal realism, historical realism, sport stories), formula fiction (mysteries and thrillers, romantic stories, and series novel), fantasy (fantastic stories, high fantasy, and science fiction), tradisional literature (fable, folktales, myths legend and hero tales, and folk epics), poetry, nonfiction,  dan biography.
Bunanta membagi sastra anak berdasarkan bentuk karya sastranya juga pembagian berdasarkan tema karya sastranya sedangkan Lukens lebih membagi karya sastra anak berdasarkan isi atau tema yang diangkat dalam sastra anak. Kalau dikelompokkan berdasarkan bentuknya, cerita anak dapat dibedakan menjadi cerita bergambar, komik, novel, cerpen, dan puisi sedangkan berdasarkan isinya (Trimansyah, 1999: 36) sastra anak dapat dibedakan menjadi tiga yaitu cerita rakyat tradisional, cerita fantasi, dan cerita realistis.

c.       Cerpen Anak
Menurut Zainuddin (1992: 106) cerita pendek ialah bentuk karangan prosa yang hanya melukiskan suatu peristiwa atau kejadian secara singkat. Burton (via Hartadi, 1994: 7) dalam bukunya  Modern Short Stories mengatakan bahwa dalam sebuah cerpen haruslah ada: cerita lengkap dengan plotnya, setting, dan karakter suatu nilai kehidupan. Sementara Hartadi (1994: 53) menjelaskan bahwa cerita pendek adalah cerita yang hanya mengungkapkan suatu masalah, dengan uraian yang singkat dan sederhana. Cerpen merupakan kesatuan jalinan peristiwa yang disusun secara sederhana namun logis.
Cerita pendek dapat dikenali dari ciri-ciri pokok, yaitu: 1) cerita fiksi, 2) bentuk singkat dan padat, 3) ceritanya terpusat pada suatu peristiwa/insiden/konflik pokok, 4) jumlah dan pengembangan pelaku terbatas, dan 5) keseluruhan cerita memberikan satu efek/kesan tunggal (Sarwadi, 1994: 165). Karena bentuknya yang pendek, hal yang diceritakan dalam cerpen hanyalah salah satu segi saja dari peristiwa yang dialami pelakunya. Peristiwa yang dikemukankan tidak dilukiskan secara rinci. Jumlah halamannya pun hanya kurang lebih 5-15 halaman saja (Rani, 1996: 96). Ukuran pendeknya sebuah cerpen menurut Phyllis Duganne (via Diponegoro, 1985: 6), dapat diukur dengan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan membacanya, yaitu tuntas dalam sekali duduk. Lebih lanjut Duganne mengatakan bahwa cerita cerpen sangat kompak tiap bagiannya, tidak ada yang sia-sia. Semuanya memberi saham yang penting untuk menggerakkan jalan cerita, atau mengungkapkan watak tokoh, atau melukiskan suasana.
Walaupun disajikan secara singkat, sebuah cerpen dapat saja menimbulkan penafsiran yang panjang. Sedangkan keterpaduan unsur-unsur yang membangunnya dalam bentuk yang pendek merupakan kepadatan sebuah cerpen (Suroto, 1989: 18).

2.       Tema dalam Karya Sastra
a.       Hakikat Tema
Struktur sebuah cerita anak hakikatnya tidak berbeda dengan struktur sebuah karya fiksi yang dipertuntukkan bagi orang dewasa. Struktur cerita anak terdiri dari character, plot, theme, setting, point of view, dan style (Lukens, 1999). Character meliputi tokoh, penokohan, dan perwatakan. Hanya saja, struktur cerita anak berdiri dengan ciri khasnya sendiri sebagai sastra anak.
Istilah tema menurut Scharbach via (Aminuddin, 1995: 90) berasal dari bahasa Latin yang berarti “tempat meletakkan suatu perangkat”. Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Dengan penjelasan tersebut, tema bagi pengarang menjadi sesuatu yang harus dipahami sebelum dituangkan dalam cerita untuk ditafsirkan pembaca.
Brooks dan Warren via (Tarigan, 1991: 125) mengatakan bahwa “tema adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel”. Tema merupakan pandangan hidup tertentu atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra. Sementara Sayuti (2000: 191), mengartikan tema sebagai makna yang dilepaskan atau makna yang ditemukan dalam suatu cerita. Tema merupakan implikasi yang penting bagi suatu cerita secara keseluruhan. Jika ditinjau dari kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema merupakan sesuatu yang diciptakan pengarang sehubungan dengan pengalaman total yang dinyatakannya.
Tema merupakan hal yang penting dalam cerita. Suatu cerita tanpa adanya tema belumlah mempunyai arti. Setiap cerita pasti mempunyai tema, meskipun pengarang terkadang tidak mengungkapkan tema secara langsung, namun terkadang pembaca baru mendapatkan makna cerita setelah selesai membacanya.
Mengenai tema ini, Nurgiyantoro (1998: 74) mengemukakan bahwa kehadirannya tidak bisa lepas dari unsur cerita yang lain. Dengan kata lain, tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur cerita yang lainnya karena tema tidak mungkin disampaikan secara langsung.
Zulfahnur Z. F., dkk. (1996: 25) mengemukakan bahwa tema mempunyai tiga sasaran yaitu (1) sebagai pedoman bagi pengarang dalam menggarap cerita, (2) sasaran (tujuan) penggarapan cerita, dan (3) mengikat peristiwa-peristiwa cerita dalam suatu alur.
Dalam cerita anak, ada yang namanya pantangan, hal ini berkenaan dengan keadaan perkembangan anak. Pantangan ini misalnya berbentuk seks (cinta yang erotis) dan kekejaman (sadisme). Tema-tema yang cocok untuk anak adalah tema-team yang menyajikan masalah yang sesuai dengan alam hidup anak-anak. Misalnya, tema tentang kepahlawanan, suka-duka pengembaraan, peristiwa sehari-hari atau juga kisah perjalanan seperti petualangan di luar angkasa atau penjelajahan dunia, dan sebagainya (Trimansyah, 1999: 38).

b.       Macam-Macam Tema
Tema dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria, yaitu berdasarkan penggolongan ditkhotomis yang terdiri dari tema tradisional dan nontradisional, berdasarkan tingkat pengalaman jiwa yang dikemukakan oleh shipley terdiri dari tema tingkat fisik, organil, sosial, egoik, tingkat divine, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya terdiri dari tema mayor dan tema minor (Nurgiyantoro, 2000: 77-83)
Tema tradisional sifatnya menghadirkan tema-tema yang monoton, itu-itu saja sedangkan nontradisional adalah tema yang mengalami perkembangan, perubahan dan sering sulit ditebak. Tidak jarang tema jenis ini mengejutkan pembaca atau tidak sesuai dengan keinginan pembaca.
Tema tingkat fisik atau jasmani merupakan tema cenderung berkaitan dengan keadaan jasmani manusia. Tema jenis ini berkaitan dengan kenyataan manusia yang terdiri dari molekul, zat, dan jasad. Salah satu contoh tema jenis ini adalah tema percintaan. Tema organik diartikan sebagai tema tentang moral karena kelompok tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia yang wujudnya tentang hubungan antarmanusia. Tema sosial meliputi hal-hal yang berbeda di luar masalah pribadi,  misalnya politik, pendidikan, dan propaganda. Tema egoik merupakan tema yang menyangkut reaksi-reaksi pribadi yang pada umumnya menentang pengaruh sosial. Tema ketuhanan atau divine merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan (Sayuti, 2000: 193-194).
Tema mayor dapat diartikan sebagai makna pokok yang menjadi gagasan dasar umum sebuah karya. Lain halnya dengan tema mayor, minor merupakan makna cerita yang hadir pada bagian-bagian tertentu yang diidentifikasi sebagai makna bagian atau tambahan (Nurgiyantoto, 2000: 82-83).

3.       Penelitian yang Relevan
Penelitian oleh Endang Listriyani (2003) yang berjudul Kajian Tema dan Amanat dalam Cerpen-Cerpen Rubrik “Permata” Majalah Ummi Edisi Januari-Desember 2001. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa ada berbagai jenis tema dalam cerpen rubrik “Permata” di majalah Ummi, antara lain tema mayor meliputi merayakan hari lebaran, kesombongan, menempati janji, hadiah ulang tahun, kesabaran, tolong-menolong dengan sesama manusia, menjaga kebersihan diri, berbuat (menolong) tanpa pamrih, berbohong, berpura-pura lupa, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Tema minor adalah kebahagiaan dengan orang lain, kasih sayang dalam keluarga, menyayangi binatang, kesabaran, dan latihan berpuasa. Amanat cerpen (1) hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi larangan bersifat sombong, anjuran untuk menempati janji, anjuran untuk bersabar, anjuran menjaga kebersihan diri, anjuran berbuat tanpa pamrih, dan ajuran introspeksi diri, (2) hubungan antarmanusia di dalam keluarga, meliputi kasih sayang orang tua kepada anak, (3) hubungan antarmanusia di dalam masyarakat, meliputi anjuran untuk menolong dan anjuran bersikap baik kepada tetangga, (4) hubungan antarmanusia dengan makhluk lain, meliputi anjuran untuk menyayangi binatang, (5) hubungan antarmanusia dengan Tuhan, meliputi anjuran untuk berpuasa pada bulan Ramadhan, anjuran bersyukur kepada Allah. Teknik penyampaian tema berupa teknik langsung dan teknik tidak langsung. Implikasi cerpen sebagai pengajaran sastra di sekolah dasar meliputi Kesesuaian tema dan amanat dengan tujuan pengajaran sastra di sekolah dan Kesesuaian tema dan amanat dengan tujuan pendidikan nasional.
Penelitian Dewi Budi Purwati (2002), yang berjudul Nilai-Nilai Akhlak dalam Cerpen-Cerpen Anak “Permata” Majalah Wanita Ummi Edisi 2002. Hasil penelitian ini yaitu wujud nilai akhlak ditinjau dari hubungan terhadap sesama (50,23%), diri sendiri (33,33%), Tuhan (15, 47%), dan lingkungan (0,97%). Jenis wujud nilai akhlak adalah akhlak mahmudah (baik) sebanyak 176 dan mazmumah (jelek) sebanyak 31. Teknik penyampaian yang digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung, yang lebih dominan penggunaannya adalah teknik tidak langsung.



J.      METODE PENELITIAN
  1. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah majalah Ummi edisi tahun 2003. majalah Ummi adalah majalah yang terbit tiap bulan. Jadi, ada 12 edisi yang akan dijadikan sumber data dalam penelitian ini. Cerpen yang diambil adalah cerpen anak yang ada pada rubrik Permata, Penuntun Ringkas Bermain dan Bercerita.
Rubrik Permata adalah rubrik yang ada di bagian tengah majalah Ummi. Rubrik ini dibuat dengan nomor halaman yang terpisah, tidak mengikuti nomor halaman rubrik dewasa. Halaman dewasa terdiri dari halaman 1 sampai dengan halaman 84 di bagian tengahnya, diselipkan rubrik permata dengan Nomor halaman yang berdiri sendiri, yaitu halaman1 sampai dengan halaman 12.
Fokus penelitian ini adalah tema dan karakteristiknya yang terdapat dalam cerpen anak dalam rubrik Permata majalah Ummi edisi tahun 2003.

  1. Pengumpulan Data
a.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca-catat. Adapun langkah-langkah dalam membaca dapat dilakukan sebagai berikut.
(1)       Membaca cerpen secara keseluruhan dan berulang-ulang untuk menghindari penafsiran yang tidak sesuai dengan topik yang dibicarakan.
(2)       Mengindentifikasi tema dan karakteristik tema dalam cerpen untuk mendapatkan data.
(3)      Menafsirkan data cerpen.
(4)      Membuat deskripsi data.
Kegiatan mencatat dalam penelitian ini meliputi.
(1)       Mencatat data yang berupa tema dan karakteristik tema cerpen.
(2)       Mencatat secara verbatim dari cerpen yang diteliti.
Setelah dicatat, kemudian dilakukan pengkodean data. Data-data tersebut berupa kata, kalimat, paragraf, atau keterangan lain. Tidak semua data yang ada di dalam novel diambil, yang diambil yaitu data-data yang mendukung penelitian yang dapat mewakili apa yang diteliti.
Data-data tersebut dimasukkan ke dalam kartu data yang dipergunakan untuk mencatat data. Data-data yang tidak mendukung penelitian tidak dicatat. Data-data yang sudah terkumpul didokumentasikan untuk dipergunakan sebagai sumber informasi dalam kerja penelitian.

b.      Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti sebagai instrumen utama karena penelitilah yang melakukan seluruh kegiatan perencanaan sampai melaporkan hasilnya, jadi peneliti sendiri merupakan instrumen penelitian.

c.       Keabsahan Data
Validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas semantik, yaitu cara mengamati kemungkinan data yang mengandung wujud dan karakteristik tema cerpen. Penafsiran terhadap data-data tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan konteks wacana tempat data itu berada.
Reliabilitas yang digunakan adalah reliabilitas intrarater dan reliabilitas interrater. Reliabilitas intrarater dilakukan dengan pembacaan berulang-ulang untuk memperoleh data yang hasilnya tetap, tidak mengalami perubahan sampai data benar-benar reliabel. Reliabilitas interrater dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil pengamatan dengan pengamat lain. Berkenaan penelitian ini dilakukan oleh tiga orang, maka diskusi dilakukan antara ketiga anggota peneliti.

  1. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Peneliti mendeskripsikan wujud tema dan karakteristiknya berdasarkan data-data yang telah terkumpul, baik berupa kalimat maupun paragraf yang terdapat dalam subjek penelitian.
Langkah-langkah yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a.      Perbandingan Antardata
Data-data yang telah diperoleh melalui pembacaan secara cermat dan teliti dicatat dalam kartu data, yang berupa data-data wujud tema dan data-data karakteristik tema, kemudian dibandingkan. Perbandingan ini dilakukan untuk mengelompokkan data-data tersebut sesuai dengan wujud tema dan karakteristiknya yang telah ditentukan.

b.      Kategorisasi
Data-data yang telah dibandingkan kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis-jenis tema dan karakteristiknya yang ada.

c.       Penyajian Data
Data-data yang telah dikelompokkan kemudian dimasukkan ke dalam tabel disertai dengan penggunaan angka untuk memperjelas deskripsi yang ada. Dalam penyajian juga dilakukan persentasi pada hasil analisis. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar frekuensi kemunculan data tentang wujud dan karakteristik tema cerpen.


d.      Penyimpulan-Penyimpulan
Data-data yang telah dikelompokkan kemudian dideskripsikan sesuai dengan interpretasi dan pengetahuan yang dimiliki peneliti. Deskripsi tema dianalisis dengan disertai contoh-contoh kutipan untuk memperjelas dan memperkuat masalah yang dikaji, begitu juga dengan karakteristik tema cerpen. Tahap pendeskripsian dilakukan secara berurutan untuk setiap kelompok berdasarkan sasaran sikap manusia. Berdasarkan pendeskripsian tersebut maka langkah selanjutnya adalah pembuatan simpulan.
 

M.  DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Astute, Retno. 1998. Kajian Tema dan Amanat Dongeng-Dongeng dalam Rubrik Majalah Bobo Tahun 1996. Skripsi S1. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP Yogyakarta.

Bunanta, Murti. 1998. Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Diponegoro, Muhammad. 1985. Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Yogyakarta: Shalahuddin Press.

Hartadi, Sinung, dkk. 1994. Bahasa dan Sastra Indonesia Kebanggaanku. Solo: Tiga Serangkai.

Lukens, Rebecca J. 1999. Critical Handbook of Children’s Literature, Sixth Edition. New York: Addison-Wesley Educational Publishers Inc.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Putri, Ciptanti. 2003. “Memahami Genre Buku Cerita Anak” dalam Majalah Matabaca Edisi Vol. 2/No. 1/Sepetember 2003.

Rani, Supratman Abdul. 1996. Ikhtisar Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Sarwadi. 1994. “Pengajaran Apresiasi Cerpen di Sekolah Menengah Atas” dalam Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMTA. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, Henry Guntur. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. 1991. Bandung: Angkasa.

Trimansyah, Bambang. 1999. Fenomena Intrinsik Cerita Anak Indonesia Kontemporer, Dunia Sastra yang Terpinggirkan. Bandung: Penerbit Nuansa.

Zainuddin. 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Zulfahnur Z.F, dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud.




L.     ANGARAN DANA
1.       Beli karya sastra anak  12 x 6000     = Rp72.000
2.       Beli Buku Teori dan Foto Kopi           = Rp60.000
3.       Foto Kopi                                     = Rp18.000
4.       Pembuatan proposal                       = Rp30.000
5.       Pembuatan laporan                        = Rp60.000
6.       Penggandaan laporan                     = Rp50.000
7.       Kertas Kuarto                               = Rp22.500
8.       Sewa komputer                             = Rp20.000
9.       Alat tulis                                      = Rp10.000
10.   Transportasi                                 = Rp15.000
11.   Honor peneliti 3 x 40.000                = Rp120.000
12.   Dana lain-lain                               = Rp22.500
Jumlah                                                      = Rp500.000

0 komentar:

Poskan Komentar