Tes Kemampuan Reseptif - skripsi man (dulrohman webs)

Kamis, 02 Agustus 2012

Tes Kemampuan Reseptif


A.    Pengertian Tes Kemampuan Reseptif

Kemampuan berbahasa yan bersifat aktif reseptif pada hakikatnya merupakan kemampuan untuk memahami bahasa yang dituturkan oleh pihak lain. Pemahaman tersebut melalui bunyi atau lisan dan tulisan. Pemahaman bunyi merupakan kegiatan menyimak, sedangkan pemahaman tulisan adalah kegiatan membaca. Tes kemampuan menyimak dan membaca cukup potensial untuk disusun menjadi tes yang bersifat integratif dan pragmatik.
Memahami informasi yang dikandung wacana merupakan hal yang harus diutamakan dalam tes kemampuan reseptif. Untuk keterampilan tes menyimak, jika tes hanya menuntut siswa mengenal bunyi – bunyi tertentu secara teliti, tergolong tes keterampilan menyimak bersifat deskrit. Contohnya, siswa diminta mengenali perbedaan fonem – fonem, seperti kata pakta dengan fakta. Untuk tes keterampilan membaca misalnya meminta siswa untuk mengucapkan fonem atau kata.
B.     Tes Kemampuan Menyimak

Secara alami bahasa bersifat lisan dan terwujud dalam kegiatan berbicara dan memahami pembicaraan itu. Hal itu akan menjadi lebih nyata terlihat pada masyarakat bahasa yang belum mengenal sistem tulisan. Pada masyarakat modern pula, dalam kegiatan sehari – harinya menggunakan bahasa secara lisan lebih banyak dibanding bahasa tulis. Olah karena itu, tes kemampuan berbahasa secara lisan adalah kemampuan menyimak. Tes kemampuan menyimak memerlukan persiapan dan sarana yang khusus.

1.      Persiapan Khusus Tes Kemampuan Menyimak
Bahan tes dalam kemampuan menyimak yang diujikan disampaikan secara lisan dan diterima siswa melalui sarana pendengaran. Penggunaan media rekaman untuk pelaksanaan tes mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : ( 1 ) menjamin tingginya tingkat kepercayaan tes, ( 2 ) Memungkinkan kita untuk membandingkan prestasi antara kelas satu dengan yang lain, ( 3) Mampu digunakan berkali – kali jikan memiliki tingkat kesahihan dan kepercayaan yang tinggi, ( 4 ) Dapat merekam situasi – situasi tertentu pemakaian bahasa, ( 5 ) Guru dapat mengendalikan pelaksanaan tes dengan lebih baik.
Sedangkan kelemahannya jika bersifat teknis harus menyediakan perangkat kerasnya di ruang ujian.
2.      Bahan Kebahasaan Tes Kemampuan Menyimak
Bahan kebahasaan yang sesuai adalah wacana. Tes kemampuan komprehensi lissan dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa menangkap dan memahami informasi yang terkandung di dalam wacana tersebut yang diterima melalui saluran pendengaran.
Pemilihan wacana sebagai bahan untuk tes kemampuan menyimak harus mempertimbangkan beberapa faktor, meliputi :
a)      Tingkat Kesulitan Wacana
Tingkat kesulitan wacana terutama ditinjau dari kosakata dan struktur yang dipergunakan. Jika kosakata yang dipergunakan sulit, mka termasuk wacana yang tinggi tingkat kesulitannya.
b)      Isi dan Cakupan Wacana
Isi dan cakupan wacana biasanya juga mempengaruhi tingkat kesulitan wacana. Jika isi atau cakupan wacana itu sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, hal itu akan mempermudah wacana yang bersangkutan.
Wacana yang akan diteskan hendaknya bersifat netral sehingga dimungkinkan adanya kesamaan pandangan terhadap isi masalah.
c)      Jenis – jenis Wacana
Menurut segi panjangnya, wacana dibedakan menjadi buku, bab – bab dari buku, paragraph, atau kata yang sudah memuat pesan. Ada yang berbentuk dialog dan bukan dialog. Kita perlu membatasi panjang wacana yang akan diteskan. Adapun jenis – jenis wacana yang sering digunakan dalam tes kemampuan menyimak meliputi :
1)      Pertanyaan atau pernyataan singkat
Para peserta tes diberi sebuah rangsangan berupa pertanyaan atau pernyataan singkat, biasanya sebuah kalimat. Contoh :
Mengapa Anda datang terlambat hari ini ? ( a ) Tadi pagi
                                                ( b ) tidak ada masalah
                                                ( c ) Ibuku dating
                                                ( d ) Beberapa jam lagi
2)      Dialog
Rangsangan yang diperdengarkan siswa berupa sebuah dialog antara orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Contoh :
Suara orang pertama : “ Tin, saya dengar ibumu sakit. Maaf ya, saya tak dapat menengok. Tapi, bagaimana keadaannya sekarang ?. “
Suara orang kedua : “ Sudah baik! Kemarin waktu saya pulang sekolah, saya semas, jangan – jangan ibu mengigau lagi. Eee, tak tahunya ibu sudah berhadapan dengan jahitannya lagi.
Suara orang ketiga : “ Apakah pekerjaan ibu sehari – hari ?.”
Jawaban dalam lembar tugas
( a ) Berdagang
( b ) Memasak
( c ) Menjahit
( d ) Mengasuh adik
( e ) Mengigau
3)      Ceramah
Rangsangan yang diperdengarkan berupa ceramah selama 5 atau 8 menit. Selam mendengarkan ceramah, siswa diperbolehkan membuat catatan – catatan yang dianggap penting. Setelah selesai mendengarkan ceramah, siswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang disajikan secra tertulis dalam lembar tugas.
d)     Tingkatan Tes Kemampuan Menyimak
      1 ) Tes kemampuan menyimak tingkat ingatan
            Tes kemampuan menyimak pada tingkat ingtan sekedar menuntut siswa ntuk mengingat fakta yng terdapat di dalam wacana. Fakta dapat berupa nama, peristiwa, angka, tanggal, bulan, tahun. Contoh :
Wacana yang diperdengarkan
Pemunculan Sutardji dalam panggung sastra Indonesia modern pada awal tahun 70-an mempunyai persamaan dengan pemunculan Chairil pada tahun 40-an. Keduanya bersifat mereaksi dan menggoyahkan kemapanan situasi kesastraan sebelumnya. Jika Chairil muncul dengan pendayagunaan makna kata, Sutardji muncul dengan pembangkangan makna…..
( dan seterusnya )
Penyair Indonesia yang muncul pada awal tahun 70 – an ialah…
            ( a ) Chairil
            ( b ) sutardji
            ( c ) Supardi
            ( d ) Suryadi
2        )  Tes kemampuan menyimak tingkat pemahaman
Tes ini menuntut siswa untuk dapat memahami wacana yang diperdengrkan. Kemampuan tersebut meliputi isi wacana, hubungan antaride,  antarfaktor, antarkejadian,dsb. Contoh :
Wacana yang diperdengarkna adalah wacana diatas !
Chairil dan Sutardji dikatakan mempunyai kesamaan sebab…..
( a ) Keduanya bersifat menggoyangkan kesastraan
( b ) Keduanya menentang tradisi kesastraan sebelumnya
( c ) Keduanya menompang tradisi kesastraan sebelumnya
( d ) Keduanya mereaksi kesastraan Indonesia
3        ) Tes kemampuan menyimak tingkat penerapan
Tes ini berfungsi untuk mengungkapkan kemampuan siswa menerapkan konsep atau masalah tertentu pada situasi yang baru. Butir – butir tes kemampuan ini dapat dikatakan tes tingkat penerapan






4        ) Tes kemampuan menyimak tingkat analisis
Pada hakikatnya  merupakan tes untuk memahami informasi dalam waca yang diteskan. Akan tetapi, untuk dapat memahami informasi siswa dituntut untuk melalukan kerja analisis . Denagan demikian, butir tes tingkat analisis lebih komplek dan sulit daripada butir tes pada tingkat pemahaman. Contoh :
Prestasi Ani lebih rendah disbanding Ari, tetapi masih baik Wulan.
( a ) Prestasi Ani lebih rendah
( b ) Prestasi wulan lebih baik daripada prestasi Ari
 ( c ) Prestasi Ani lebih baik daripada prestasi Wulan
( d ) Prestasi Wulan paling baik
C.     Tes Kemampuan Membaca
Kegiatan membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulisan. Pada kegiatan membaca diperlukan pengetahuan tentang sistem tulisan, khususnya mengenai huruf dan ejaan. Tes kemampuan menbaca dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif siswa memahami wacana tertulis.
1.      Taksonomi Bloom untuk tugas membaca
Tujuan pengajaran membaca biasanya dikaitkan dengan tiga taksonomi Bloom : aspek kognitif, afektif dan psikomotor.  Tugas kognitif berupa aktivitas memahami bacaan secara tepat dan kritis atau berupa kemampuan membaca. Tugas afektif berhubungan dengan sikap dan kemauan siswa untuk membaca, sedangkan tugas psikomontorik beerupa aktivitas fisik siswa sewaktu membaca
2.      Bahan tes kemampuan membaca
Tes kemampuan menbaca dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa memahami isi atau informasi yang terdapat dalam bacaan. Oleh karena itu, bacaan yang diujikan hendaknya mengandung informasi yang menuntut untuk dipahami. Pemilihan mwacana hendaknya mempertimbangkan dari segi tingkat kesulitan, panjang pendek, isi, dan bentuk wacana.
1        ) Tingkat kesulitan wacana
Tingkat kesulitan wacana terutama ditentukan oleh kekompleksan kosakata dan struktur.  Secara umum orang mengatakan bahwa wacana yang baik untuk bahan tes kemampuan membaca adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang atau sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
2        ) Isi wacana
Secara paedagogis orang mengatakan bahwa bacaan yang baik adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa, minat, kebutuhan siswa. Tujuan kegiatan membaca adalah memperluas dunia dan horizon siswa, memperkenalkan berbagai hal dan budaya dari berbagai pelosok daerah dan Negara lain.
3        ) Panjang pendek wacana
Wacana yang diteskan sebaiknya tidak terlalu panjang. Kita dapat membuat soal tentang berbagai hal, jadinya lebih komprehensif jika menggunakan wacana yang pendek.
4        ) Bentuk – bentuk wacana
Wacana yang dipergunakan sebagai bahan untuk tes kemampuan membaca dapat wacana yang berbentuk prosa ( naratif ) seperti karya fiksi atau nonfiksi, majalah, jurnal. Dialog seperti naskah drama. Puisi, adalah salah satu bentuk karya seni yang mengandung pesan. Hal ini dapat dijadikan tes kemampuan membaca.  Contoh

RAKYAT
( Hartojo andangdjaja )

Rakyat ialah kita
Jutaan tangan yang mengyun dalam kerja
Di bumi di tanah tercinta
Jutaan tangan mengayun bersama
Membuka hutan- lalang jadi lading – lading berbunga
Mengepulkan asap dari cerobong pabrik – pabrik di kota
Menaikkan layar  menebarkan jala
Meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja
…….
…….                Angkatan 66

Siapakah yang dimaksud Rakyat oleh penyair di atas ?
( a ) Orang yang hidup di bumi dan tanah tercinta
( b ) Orang yang sibuk bekerja di hutan dan pabrik
( c ) Orang yang sibuk bekerja di laut dan pertambangan
( d ) Orang yang sibuk bekerja di manapun mereka bekerja
3.      Tingkatan tes Kemampuan Membaca
Penekanan tes kemampuan membaca adalah kemampuan untuk memahami informasi yang terkandung dalam wacana.
1 ) Tes kemampuan membaca tingkat ingatan
     Tes kemampuan membaca pada tingkat ingatan menghendaki siswa untuk menyebutkan kembali fakta, definisi, atau konsep yang terdapat dalam wacana yang diujikan.  Contoh :

Pemindahan unsure – unsure kebahasaan dari satu bahasa ke bahasa yang lain dapat menimbulkan pengaruh positif, negative, dan netral. Pemindahan secara positif terjadi ketika unsur  bahasa yang diterima mempunyai kesamaan dengan bahasa penerima dan menghasilkan penampilan yang benar serta membantu kelancaran komunikasi. Pemindahan yang bersifat menguntungkan ini lah yang disebut pemungutan.
Pemindahan yang bersifat negative terjadi ketika unsure – unsure kebahasaan yang diterima tidak mempunyai kesamaan dengan bahasa penerima dan menghasilkan tindak berbahasa yang tidak benar karena terjadi dislokasi structural, dan menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi yang disampaikan. Pemindahan yang bersifat negative inilah yang bersifat interferensi. Pemindahan yang bersifat netral terjadi jika pemindahan unsure – unsure kebahasaan ini tidak mempengaruhi kelancaran atau hambatan komunikasi dalam bahasa penerima.

a.       Sebutkan tiga macam dampak pemindahn unsure – unsure kebahasaan antarbahasa ?
b.      Pemindahan secara positif terjadi jika …… ?
c.       Pemindahan yang bersifat negative disebut…..

                                   

1 komentar: